My Poem Collection
Monday, June 18, 2007
Ya Allah Ya Robbi ijinkanlah aku mencintai-Mu hingga akhir nafasku
Saturday, June 09, 2007
Nasehat Seorang Sahabat
Sahabat,
Engkau mestinya banyak-banyak bersyukur
Engkau mestinya banyak-banyak bertafakur
Engkau mestinya banyak-banyak menyungkur
Engkau mestinya banyak-banyak berzikir
Engkau mestinya banyak-banyak bertakbir
Engkau mestinya banyak-banyak berpikir
Bukankah.
Jika kelaparan engkau masih bisa berpuasa seharian
Bukankah
Jika kehujanan engkau masih bisa menginap di rumah teman
Bukankah
Jika kegelapan engkau masih bisa menyalakan lilin di meja makan
Bukankah
Jika kedinginan engkau masih bisa mengambil selimut di tumpukan pakaian
Bukankah
Jika kepanasan engkau masih bisa nyalakan kipas angin tangan seharian
Bukankah
Jika ketakutan engkau masih bisa meminta adik jadikan teman
Bukankah
Jika kebingungan engkau masih bisa meminta kakak berikan pemecahan
Bukankah
Jika kekurangan engkau masih bisa bersabar sampai keinginan kaudapatkan
Bukankah
Jika tak kunjung dapatkan kerjaan engkau masih bisa jualan semangka di Kebayoran
Bukankah
Jika tak kunjung dapatkan pasangan engkau masih bisa tegakkan salat malam
Bukankah
Jika tak kunjung dapatkan rumah idaman engkau masih bisa menginap di rumah milik Abang
Bukankah
Jika tak kunjung dapatkan mobil sedan engkau masih bisa naik bus yang menderu setiap petang
Bukankah
Jika kena musibah engkau masih bisa meminta Bunda berikan petuah
Bukankah
Jika kena sakit engkau masih bisa temui dokter ke apotik atau rumah sakit
Bukankah
Jika rindu engkau masih punya boneka tempat kamu mengadu
Bukankah
Jika cinta engkau masih miliki kasih sayang Bunda
Bukankah
Jika gundah engkau masih bisa mengambil wudu dan menggelar sajadah
Bukankah
Jika resah engkau masih bisa mendatangi taklim-taklim dengan sejuta tausiah
Bukankah
Jika sendiri engkau masih bisa minta teman untuk menemani
Sahabat,
Bukankah Allah telah kasih semuanya
Bukankah Allah telah berikan segalanya
Bukankah Allah telah sediakan semua yang tiada kamu pinta
Bukankah Allah telah merelakan semua milik-Nya
Bukankah Allah telah rida mewakafkan semua nikmat-Nya
Bukankah Allah begitu mengasihimu lebih dari segalanya
Tapi,
Sahabat,
Kenapa engkau terburu-buru meminta surga
Kenapa engkau terburu-buru meminta balasan-Nya
Sahabat
Apa yang kurang
Apa yang tak kunjung datang
Apa yang tak kunjung dikasihkan
Sahabat
Sepertinya
Dunia ini lebih baik bagimu
Dunia ini lebih baik untukmu
Dan surga,
Lupakan saja kawan
Karena ia hanya untuk para syalah syahada
Yang ikhlas berikan nyawa
Dan tak menuntut banyak akan kemurahan-Nya
Karena mereka begitu paham
Bahwa umur mereka di dunia
Dihitung oleh seberapa lama mereka ada di tanah syuhada
Mulai Kashmir hingga Palestina
Demi tegaknya risalah dunia
Dan kamu
Cukuplah bagimu
Tetaplah menjadi batu
Yang datang dan sirna oleh waktu
Tiada pantas engkau menyebut nama-Ku
Apalagi meminta indahnya jannah-Ku
Astagfirullah,
Waghfirlana fa innaka khairul ghafirin
Engkau mestinya banyak-banyak bersyukur
Engkau mestinya banyak-banyak bertafakur
Engkau mestinya banyak-banyak menyungkur
Engkau mestinya banyak-banyak berzikir
Engkau mestinya banyak-banyak bertakbir
Engkau mestinya banyak-banyak berpikir
Bukankah.
Jika kelaparan engkau masih bisa berpuasa seharian
Bukankah
Jika kehujanan engkau masih bisa menginap di rumah teman
Bukankah
Jika kegelapan engkau masih bisa menyalakan lilin di meja makan
Bukankah
Jika kedinginan engkau masih bisa mengambil selimut di tumpukan pakaian
Bukankah
Jika kepanasan engkau masih bisa nyalakan kipas angin tangan seharian
Bukankah
Jika ketakutan engkau masih bisa meminta adik jadikan teman
Bukankah
Jika kebingungan engkau masih bisa meminta kakak berikan pemecahan
Bukankah
Jika kekurangan engkau masih bisa bersabar sampai keinginan kaudapatkan
Bukankah
Jika tak kunjung dapatkan kerjaan engkau masih bisa jualan semangka di Kebayoran
Bukankah
Jika tak kunjung dapatkan pasangan engkau masih bisa tegakkan salat malam
Bukankah
Jika tak kunjung dapatkan rumah idaman engkau masih bisa menginap di rumah milik Abang
Bukankah
Jika tak kunjung dapatkan mobil sedan engkau masih bisa naik bus yang menderu setiap petang
Bukankah
Jika kena musibah engkau masih bisa meminta Bunda berikan petuah
Bukankah
Jika kena sakit engkau masih bisa temui dokter ke apotik atau rumah sakit
Bukankah
Jika rindu engkau masih punya boneka tempat kamu mengadu
Bukankah
Jika cinta engkau masih miliki kasih sayang Bunda
Bukankah
Jika gundah engkau masih bisa mengambil wudu dan menggelar sajadah
Bukankah
Jika resah engkau masih bisa mendatangi taklim-taklim dengan sejuta tausiah
Bukankah
Jika sendiri engkau masih bisa minta teman untuk menemani
Sahabat,
Bukankah Allah telah kasih semuanya
Bukankah Allah telah berikan segalanya
Bukankah Allah telah sediakan semua yang tiada kamu pinta
Bukankah Allah telah merelakan semua milik-Nya
Bukankah Allah telah rida mewakafkan semua nikmat-Nya
Bukankah Allah begitu mengasihimu lebih dari segalanya
Tapi,
Sahabat,
Kenapa engkau terburu-buru meminta surga
Kenapa engkau terburu-buru meminta balasan-Nya
Sahabat
Apa yang kurang
Apa yang tak kunjung datang
Apa yang tak kunjung dikasihkan
Sahabat
Sepertinya
Dunia ini lebih baik bagimu
Dunia ini lebih baik untukmu
Dan surga,
Lupakan saja kawan
Karena ia hanya untuk para syalah syahada
Yang ikhlas berikan nyawa
Dan tak menuntut banyak akan kemurahan-Nya
Karena mereka begitu paham
Bahwa umur mereka di dunia
Dihitung oleh seberapa lama mereka ada di tanah syuhada
Mulai Kashmir hingga Palestina
Demi tegaknya risalah dunia
Dan kamu
Cukuplah bagimu
Tetaplah menjadi batu
Yang datang dan sirna oleh waktu
Tiada pantas engkau menyebut nama-Ku
Apalagi meminta indahnya jannah-Ku
Astagfirullah,
Waghfirlana fa innaka khairul ghafirin
Bila telapak tanganmu berkeringat, hatimu dag dig dug, suaramu bagai tersangkut di tenggorokan,
itu bukan cinta tetapi suka.
Bila tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya,
itu bukan cinta tetapi birahi.
Bila kamu menginginkannya karena tahu ia akan selalu berada di sampingmu,
itu bukan cinta tetapi kesepian.
Bila kamu menerima pernyataan cintanya, karena kamu tidak mau menyakiti perasaan dan hatinya,
itu bukan cinta tetapi kasihan.
Bila kamu bersedia memberikan semua yang kamu suka demi dia,
itu bukan cinta tetapi kemurahan hati.
Bila kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya, kepada semua orang,
itu bukan cinta tapi kemujuran.
Bila kamu mengatakan kepadanya bahwa ia adalah satu satunya hal yg kamu pikirkan,
itu bukan cinta tapi gombal.
Kamu mencintainya, ketika kamu menerima kesalahan dia,
karena itu adalah bagian dari kepribadian.
Ketika kamu rela memberikan hatimu, kehidupanmu,
bahkan kematianmu.
Ketika hatimu tercabik bila ia sedih, dan berbunga bila ia bahagia.
Ketika kamu menangis untuk kepedihannya biarpun ia cukup tegar menghadapinya.
Ketika kamu tertarik kepada orang lain tetapi kamu masih bersamanya..................
itu bukan cinta tetapi suka.
Bila tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya,
itu bukan cinta tetapi birahi.
Bila kamu menginginkannya karena tahu ia akan selalu berada di sampingmu,
itu bukan cinta tetapi kesepian.
Bila kamu menerima pernyataan cintanya, karena kamu tidak mau menyakiti perasaan dan hatinya,
itu bukan cinta tetapi kasihan.
Bila kamu bersedia memberikan semua yang kamu suka demi dia,
itu bukan cinta tetapi kemurahan hati.
Bila kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya, kepada semua orang,
itu bukan cinta tapi kemujuran.
Bila kamu mengatakan kepadanya bahwa ia adalah satu satunya hal yg kamu pikirkan,
itu bukan cinta tapi gombal.
Kamu mencintainya, ketika kamu menerima kesalahan dia,
karena itu adalah bagian dari kepribadian.
Ketika kamu rela memberikan hatimu, kehidupanmu,
bahkan kematianmu.
Ketika hatimu tercabik bila ia sedih, dan berbunga bila ia bahagia.
Ketika kamu menangis untuk kepedihannya biarpun ia cukup tegar menghadapinya.
Ketika kamu tertarik kepada orang lain tetapi kamu masih bersamanya..................